Sunday, March 6, 2011

Tips dan Cara Membeli, Mendaftarkan & Registrasi Domain Web Internet .com, .net, .org, .info

Sumber: http://danielbennysimanjuntak.blogspot.com/2010/03/tips-dan-cara-membeli-mendaftarkan.html
[Informasi ini sangat bermanfaat untuk yang pertama kali ingin membeli-daftar-registrasi domain web, thanks to Daniel! :) ]

Domain adalah suatu identitas penamaan pada jaringan internet dunia secara global agar mudah diingat untuk berbagai macam keperluan seperti untuk membuat website, membuat alamat email, memprotek merk dagang, dan lain sebagainya.
Harga domain kini semakin terjangkau dengan semakin ketatnya persaingan penjual domain baik di dalam maupun di luar negeri. Harga domain kini hanya berkisar antara 85 sampai 110 ribu rupiah untuk masa penggunaan satu tahun. Sebenarnya istilah sewa domain lebih tepat daripada menggunakan istilah beli domain, karena nyatanya kita hanya memiliki domain untuk jangka waktu tertentu sesuai kontrak.


Panduan keterangan akhiran domain :
- .com = komersial / bisnis
- .net = network / isp
- .org = organisasi
- .biz = bisnis
- .info = informasi bebas
- .name = individual perseorangan
Keterangan : pada umumnya anda bebas mengisi situs apa saja di masing-masing akhiran.

Tahap dan Langkah Mendaftar Domain :
1. Masuk ke situs web penjual web domain yang memiliki servis dan support yang baik seperti www.idwebhost.com, www.singcat.com, www.indohoster.com, dan lain sebagainya.
2. Daftar user baru pengguna situs tersebut. Anda biasanya diperbolehkan mendaftar user tanpa harus membeli apa-apa.
3. Cari kotak isian yang berfungsi untuk mancari status domain apakah masih bisa didaftarkan atau sudah didaftarkan orang lain. Isi dengan domain yang anda ingin tahu ketersediaannya. Contoh masukkan abc.com, jika masih available berarti anda bisa mendaftarkan domain tersebut, namun jika tidak bisa maka anda bisa mencoba mencari alternatif domain lain atau membeli domain akhiran lain.
4. Daftarkan domain yang tersedia / available tersebut dengan mengisi berbagai form isian untuk data konfigurasi, alamat, dan lain-lain.
5. Lakukan pembayaran sesuai prosedur yang dapat dilayani oleh masing-masing penjual domain. Contohnya adalah seperti melakukan transfer rekening bank BCA, Bank Mandiri, Bank Lippo, Bank Niaga, dan lain sebagainya.
6. Konfirmasi pembayaran bahwa anda telah melakukan perbayaran atas domain yang anda daftarkan tadi melalui form isian, yahoo instant messenger, email, sms, dan lain sebagainya sesuai ketentuan penjual domainnya.
7. Jika semua lancar dan berjalan mulus, maka anda sudah dapat menggunakan domain anda dalam beberapa saat. Biasanya akan ada kiriman email yang mengkonfirmasi domain anda sudah bisa digunakan.
8. Setting name server domain tersebut agas merujuk ke server webhosting anda. name server berbentuk alamat situs dengan awalan subdomain ns1, ns2, dan sebagainya. Urutan dns name server berpengaruh karena ketika ns1 down, maka kita dialihkan ke ns2.
9. Selanjutnya anda harus memiliki account web hosting untuk dapat segera membuat situs. Dari account webhosting inilah anda mendapatkan domain name server atau dns. Setting tambah domain addon atau parked dengan domain baru anda pada control panel yang ada. Kemudian anda sudah bisa mulai membuat situs anda.
10. Jangan lupa memperpanjang masa aktif domain anda setiap 11 bulan sekali agar tidak terlewat. Seseorang bisa saja mendaftarkan domain anda ketika masuk masa domain dapat direregister kembali dan anda akan kehilagan hak anda untuk menggunakan domain tersebut.

Menulis dengan Baik (dan Benar)

oleh: Eunika R. Kartika Sari*

Menulis menunjukkan intelektualitas. Moto ini pasti tak asing di telinga Anda. Di Indonesia, tulisanlah yang menentukan mahasiswa strata satu lulus atau tidak. Beda dengan negara barat. Tidak selalu ada skripsi. Kelulusan ditentukan hanya dengan ujian atau karena memang mata kuliahnya sudah selesai.

Dengan adanya keharusan menulis skripsi atau tugas karya akhir, mahasiswa Indonesia seharusnya siap untuk menjadi penulis. Namun, bukan menulis sembarangan. Sarjana dan tukang becak tentu harus bisa dibedakan dari tulisannya. Penulis yang cerdas tentu akan menulis dengan cara yang cerdas. Nah, yang saya maksud ‘cerdas’ ini adalah menulis dengan baik dan benar.

Tulisan yang baik mengacu pada gaya atau cara si penulis berbahasa dalam tulisannya. Mengamati gaya bahasa penulis memang sangat menarik. Saya yakin tiap bahasa punya kasta atau tingkatan, seperti bahasa Jawa dengan ngoko dan kromo-nya. Cara berbahasa si penulis akan menunjukkan apakah dia mengenal siapa yang akan membaca tulisannya—atau singkatnya, target pembaca.

Caranya berbahasa akan menunjukkan apakah ia menghargai si pembaca dan bagaimana ia menempatkan si pembaca di hadapan dirinya sendiri. Sebagai penulis di koran anak, saya tidak boleh menggunakan istilah yang terlampau rumit karena itu artinya saya tidak menghargai pembaca yang pengetahuannya terbatas di bangku sekolah dasar.

Saya juga tidak boleh menyusun tulisan dengan kalimat yang panjang-panjang karena akan menghilangkan gairah mereka untuk membaca. Jika pembaca hilang gairah, jalan mereka pada pengetahuan yang baru otomatis tertutup. Yang saya mengerti, tulisan yang baik itu—seperti yang diajarkan oleh guru menulis saya, Pak Yoel Indrasmoro—adalah tulisan yang mudah dimengerti. Kalau memang ingin sulit dimengerti, menulis puisi saja sekalian!

Lalu, seperti apakah tulisan yang benar? Asing dengan nama Gorys Keraf? Jika ingin tahu seperti apa tulisan yang benar, saya sarankan Anda “berkenalan” dahulu dengan Pak Keraf. Gorys Keraf adalah inspirasi dan pahlawan bagi masyarakat Desa Lamalera, Nusa Tenggara Timur. Bukan karena ia jadi pejuang kemerdekaan. Alih-alih, jasa terbesarnya adalah menulis serentetan buku Tata Bahasa Indonesia.

Seberapa pentingkah tata bahasa? Jujur saja, jika saya disodorkan sebuah tulisan, hal pertama yang akan saya simak adalah bagaimana pengetahuan tata bahasa si penulis. Agak mengecewakan bila ide bagus yang ingin diangkat dalam sebuah tulisan tidak dikemas dengan tata bahasa yang benar.

Di Amerika Serikat, ada yang dinamakan kontes spelling bee. Spelling bee adalah kontes mengeja yang biasanya diadakan bagi anak-anak sekolah dasar. Kontes ini bahkan sampai ada tingkat nasionalnya karena mengeja adalah hal yang luar biasa sulit bagi anak-anak Amerika. Bahasa mereka memang banyak memiliki kosakata yang rumit. Karena itu, mengeja jadi persoalan besar dalam hal tulis-menulis.

Kosakata dalam bahasa Indonesia tidaklah lebih rumit. Namun, yang membuatnya rumit adalah awalan, akhiran, sisipan, dan terkadang campuran awalan-akhiran. Banyak orang yang kemudian merancukan imbuhan ini dengan kata-kata sambung. Misalnya, dikerjakan atau di kerjakan? Di rumah atau dirumah?

Para sarjana Sastra Indonesia mungkin tertawa dan menyangka saya mengada-ada. Namun, ini adalah kenyataan! Kesalahan-kesalahan ini banyak dilakukan oleh penulis-penulis yang sudah lulus ujian pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama, sekolah menengah, bahkan perguruan tinggi.

Saya pernah mendengar seorang budayawan, Radar Panca Dahana berkata, bahasa menunjukkan kebesaran suatu bangsa. Seringkali kebudayaan bangsa diukur dari seberapa kayanya peninggalan tulisan bangsa tersebut. Peninggalan tulisan itu menyiratkan apakah bangsa itu menghargai pengetahuan, sejarah, atau bagaimana berespon pada suatu peristiwa.

Pada zaman prasejarah, manusia cenderung menyatakan pendapat melalui tindakan atau secara lisan. Misalnya, jika tidak suka, mereka merusak. Jika marah atau gelisah, mereka berteriak. Seiring waktu dan berkembangnya kecerdasan manusia, bahasa berkembang dan muncullah aksara. Hadirnya aksara memungkinkan manusia untuk menulis dan mendokumentasikan segala sesuatu, termasuk kebudayaan dan cara hidup mereka. Aksara telah membuat manusia beralih dari zaman prasejarah ke zaman sejarah.

Tulisan Anda menunjukkan siapa Anda. Tulisan berbahasa Indonesia menunjukkan siapa bangsa Indonesia. Terkadang tata bahasa memang wajar diabaikan demi keindahan rima atau keluwesan tulisan. Akan tetapi, bukan berarti tata bahasa itu harus diabaikan selamanya. Tak benar rasanya mengagung-agungkan gagasan semata.

Saya patut mendedikasikan tulisan saya ini untuk guru Bahasa Indonesia saya semasa SMP. Di bawah tangan besi Ibu Godeliva, saya dan teman-teman sekelas ditekan untuk menguasai—lebih tepatnya khatam—mengenai seluk-beluk bahasa Indonesia. Di akhir tiap jam pelajaran, kami masing-masing diharuskan membuat satu kalimat.

Kalimat itu tak perlu panjang dan rumit. Yang terpenting, kalimat itu benar dari segi tata bahasa maupun logika. Yang menentukan kalimat itu salah atau benar adalah kami sendiri secara aklamasi. Siapapun yang menyebutkan kalimat salah harus rela menerima penghinaan dengan duduk di lantai. Sebuah hukuman yang konyol, namun cukup membuat jantung kami dag-dig-dug menjelang akhir pelajaran.

Saya pun sempat mencicipi hukuman itu saat menyebutkan kalimat sederhana: Ibukota Belanda adalah Den Haag. Tak lama setelah saya mengucapkan kalimat itu, teman sekelas kompak berseru, “Turuuuuun…” Dengan wajah memerah karena tak terima, saya turun ke lantai. Teman di bangku depan menyeringai ke arah saya sembari berkata, “Ibukota Belanda yang sah itu Amsterdam, goblok!” Saya lalu manyun, sambil terus berpikir kenapa ada negara yang punya ibukota yang sah dan tidak sah. Den Haag yang saya pikir ibukota itu ternyata hanya kota pusat pemerintahan saja.

Bagi sebagian orang, menulis adalah sebuah tantangan besar. Apalagi menulis dengan tata bahasa yang benar. Namun, janganlah tulisan saya ini membuat Anda mundur. Tujuan saya justru memacu Anda untuk terus menulis dan lebih menghargai bahasa persatuan kita ini. Saya percaya, jika bahasa Indonesia terus ditulis dengan baik dan benar oleh para penggunanya, bahasa kita ini akan sampai juga di ranah pergaulan internasional.

Mari terus menulis karena menulis itu membuat gagasan kita abadi. Mari menulis karena menulis itu menghargai kecerdasan kita. Mari menulis karena menulis itu mencerahkan dan menolong orang lain. Dan, mari menulis dengan tata bahasa yang benar, karena itu menunjukkan kita bangsa yang besar.

*Penulis adalah wartawan yang masih belajar menulis.

Bacaan Lanjut:

  1. Tatabahasa Indonesia (1991) oleh Gorys Keraf.
  2. Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang (Jilid I, 2009) diedit oleh Pamusuk Eneste.
  3. Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi terbaru, 2008) dalam bentuk elektronik bisa diunduh di http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/
  4. Panduan EYD dan Tata Bahasa Indonesia (2010) oleh Redaksi TransMedia.


--
I believe that education is the fundamental method of social progress and reform.
(My Pedagogic Creed, John Dewey, 1897)