Wednesday, October 31, 2007

Thought On Contemporary Christian Music

by : Stefanus


Bagi orang-orang Kristen, saya harap anda membaca blog ini lalu memberikan tanggapan. Karena saya juga ingin bertukar pikiran mengenai hal ini.

Tahun ini saya banyak mikirin hal ini. Dulu [tepatnya dimulai 3tahun lalu] saya sangat suka sekali dengan lagu2 kristen kontemporer, namun makin kesini saya semakin mengkritisi lagu2 tersebut. Bukan hanya lirik tapi saya juga mengkritisi musik pada lagu2 kristen kontemporer. Memang kita merupakan umat pemuji, namun bagaimana harus memuji kita juga perlu dikritisi.

Blak-blakan saja, sekarang ini musik kristen terbagi menjadi dua. Hymn dan kontemporer. Hymn cenderung terkesan dengan suasana yang tidak bersemangat dan terkesan kolot. Hymn juga sangat didekatkan pada musik yang berat, notasinya cukup sulit dan kadang sulit dimengerti apalagi dinikmati, sehingga membentuk image bahwa hymn adalah lagu yang kuno [selain karena memang diciptakannya pada zaman dahulu]. Sedangkan musik kristen kontemporer cenderung terkesan dengan suasana penuh semangat. Musiknya mudah dimengerti dan dinikmati, sehingga kadang kita bisa sangat terbawa dengan lagu tersebut.

Ini adalah beberapa poin yang saya dapat dari pengamatan saya akan musik kristen kontemporer. Banyak sekali sebenarnya bila dijabarkan satu-persatu, namun untuk saat ini saya hanya ingin menjabarkan poin-poin yang menurut saya penting.

  • Manja

Penilain ini saya berikan melalui pengamatan pada lirik lagu kristen kontemporer. Banyak sekali ajaran-ajaran tentang teologi kesuksesan. Dan saya jelas sangat menentang ajaran ini [saya berani berdebat untuk hal ini]. Kata-kata yang berisi teologia kesuksesan ini membentuk orang kristen menjadi orang kristen yang manja. Ini juga membuat saya sedih, kalau kita menjadi orang yang manja kapan kita bisa mandiri, apalagi menjadi teladan. Yang diajarkan lagu kristen kontemporer adalah hanya meminta tanpa ada tindakan lanjutan. Coba anda perhatikan , jarang ada lirik tentang respons terhadap firman Allah.

  • Egois

Coba anda lihat kembali lirik-lirik pada lagu kristen kontemporer. Lagu-lagu kristen kontemporer banyak sekali yang menjadikan diri sendiri [aku] sebagai subjek pertama, sudah jarang sekali lagu kristen kontemporer yang menjadikan Tuhan subjek [sungguh menyedihkan], dan sudah jarang juga yang menjadikan komunitas [gereja atau lagu dengan subjek kami] sebagai subjek utama. Dari pengamatan yang saya lakukan pada buku lagu kumpulan lagu-lagu kristen kontemporer, setidaknya 70% isi dari buku tersebut adalah aku sebagai subjek utamanya. Ini dikarenakan lagu kristen kontemporer banyak dibuat berdasarkan pengalaman pribadi sang pembuat lagu. Sungguh hal yang menyedihkan jika lagu-lagu dengan subjek aku ini terlalu banyak dinyanyikan dalam sebuah komunitas gereja. Sudah jelas gereja adalah komunitas, bayangkan apa yang terjadi jika gereja terlalu banyak menggunakan lagu tersebut. Menurut saya gereja akan kehilangan maknanya sebagai sebuah komunitas, karena orang-orang didalamnya sibuk memikirkan dan menikmati diri sendiri. Jadi tidak heran jika sekarang orang kristen terpecah-pecah, lihat saja dalam satu kompleks ada berapa banyak gereja, tidak adakah keinginan untuk bersatu? Lalu apa bedanya kita dengan orang lain, coba pikir out-of-the-box bagaimana orang lain melihat kekristenan yang terpecah-pecah, apa orang Kristen sudah jadi teladan kalau seperti itu?

  • Terlalu dipengaruhi oleh bisnis

Saya sungguh kecewa melihat sekarang lagu kristen merupakan sumber pencaharian uang [apakah anda setuju dengan saya?]. Lihat sendiri di toko-toko lagu kristen berapa banyak ’artis’ [saya tidak setuju dengan istilah ini] yang mengeluarkan albumnya hampir setiap tahun. Hal ini akan berpengaruh sangat buruk, bagaimana dapat menciptakan lagu yang baik jika setiap tahun dikejar dead-line untuk mengeluarkan album, bahkan kalau sudah ada kontrak [akan lebih menyedihkan, anda mengambil uang dai Tuhan]. Tidak heran jika lagu-lagu kontemporer kristen sekarang kata-katanya banyak yang mengulang, perhatikan sendiri hanya berputar-putar pada bersyukurlah, Allah yang baik, kecaplah, lihatlah, rasakan, bermazmur. Musik yang adapun tidak heran jika juga mengulang-ngulang yang sudah ada.

  • Tidak Kreatif

Poin ini lebih saya tujukan pada musik dari lagu kristen kontemporer. Sekarang coba saya tanya anda, apa yang anda pikirkan ketika anda mendengar lagu kristen kontemporer? Apa yang membedakannya dengan lagu biasa? Jika anda sudah menjawab apa yang anda pikirkan, sekarang saya mau mengajak anda untuk out of the box apa yang orang lain pikirkan ketika melihat lagu-lagu orang kristen sama dengan lagu biasa. Jawaban diataslah yang saya dapat dari teman saya yang tergolong orang lain. Sungguh suatu hal yang ironis dan mungkin inilah yang harusnya menjadi tantangan musisi kristen masa kini. Yang saya lihat musik kristen kontemporer tidak mengekspresikan apa-apa melalui nada. Jika saya menutup mata mendengarkan lagu kristen dan lagu kontemporer [tanpa memperhatikan lirik] saya tidak merasakan perbedaan.


Bagi anda yang pro-hymn, jangan langsung senang karena saya juga tidak masuk dalam golongan tersebut. Saya berani berdebat kalau tidak selalu hymn menjadi lebih baik. Sampai saat ini saya masih mendengarkan lagu kristen kontemporer karena saya butuh pengalaman pribadi dengan Tuhan, namun banyak yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan lagu kristen kontemporer.

Tulisan ini bisa dibilang merupakan reaksi dari kekecewaan saya melihat perkembangan umat kristen. Doa saya adalah jangan samapi pujian itu menjadi duri dalam daging orang kristen, karena kita adalah umat pemuji.

Saya tunggu commentnya.


Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal-budimu.

(thanks for reading n respons ^^, please give your comment)

2 comments:

Anonymous said...

Apapun lirik dan musik dalam lagu tersebut tidak menjadi masalah, yang terpenting adalah bagaimana kita dapat menilai arti dan ketulusan hati kita untuk menyembah. Sumber dari kebenaran adalah kitab suci, buka dari lagu itu sendiri. Bersikap kritis dalam doa, pujian dan penyembahan . Berikan yang terbaik bagi Tuhan, bukan meminta apa yang terbaik bagi kita. Tetap dalam doa, pujian dan penyembahan ya cil ^^ GBU....

Anonymous said...

julius..

saya snang ada wadah untuk share tentang musik rohani. saya seorang pernulis lagu, namun sampai skarang saya belum merilis album, saya sangat setuju dengan pernyataan anda tentang musik kontenporer. saya mau nanya apa saran anda untuk para penulis lagu kristiani.