Wednesday, December 12, 2007

kemiskinan struktural

by : Eunika R.


Kemiskinan struktural...

Kata-kata ini sudah berkali-kali terucap dari mulut Edwin. Berkali-kali, sampai aku terkadang bosan dan muak. Tetapi, itulah faktanya. Tidak semua orang bisa makan tiga kali sehari seperti keharusan manusia yang kehidupannya normal. Tidak semua orang bisa beli pulsa, walaupun ini tidak selalu sebuah hal yang patut diperjuangkan. Di Indonesia ini, sebagian besar masyarakatnya tiap hari sering memusingkan urusan perut dan kelangsungan hidup karena memang tidak ada jaminan hidup buat mereka.

Aku dan teman-teman mahasiswa yang lain bukanlah sekelompok orang yang beruntung. Kami adalah sekelompok orang yang sangat sangat sangat sangat beruntung! Benar, sangat sangat beruntung karena dalam kondisi masyarakat seperti ini setidaknya setiap hari tidak dipusingkan dengan masalah makan gak makan. Beruntung karena masih bisa menerima pengajaran dan pendidikan dengan demikian bagus. Dan bodohnya, sebagian besar dari kami sering mengeluhkan urusan kuliah. Malas lah, suntuk lah, lelah lah. Lupa kalau di luar sana masih ada yang makan nasi aking.

Orang-orang yang kurang kuat imannya, langsung menghakimi Tuhan sebagai penyebab semua ini. Salah satu temanku bahkan bertanya: “Tuhan tahu kalau orang miskin itu bisa bahagia dengan makan tiga kali sehari, tapi kenapa Tuhan sering gak kasi orang itu makan? Gw gak ngerti hal itu.” Well, pikiran manusia memang terlalu bodoh untuk menganalisa fenomena seperti itu. Karena tidak tahu lagi harus berbuat apa, hal yang paling mudah untuk dilakukan adalah menyalahkan Tuhan. Jadi, pantaskah Tuhan dipersalahkan?

Coba kita berpikir bodoh. Kalau Tuhan mau semua manusia bahagia, kenapa ada orang miskin, dan ada orang kaya? Kalau Tuhan mau setiap manusia menuruti kehendakNya, kenapa ada perampok, pembunuh, koruptor, dan pelacur? Inti pertanyaannya, kenapa Tuhan tidak membentuk manusia sesuai dengan apa yang Dia mau? Toh, itu akan membuat kehidupan manusia lebih baik kan? Sederhana bukan?

Sekarang, mari kita berpikir pintar dengan menggunakan rasio dan iman kita secara bersamaan. Pertanyaan pertama, siapa yang menciptakan kita? Jawabannya, Tuhan. Kalau kita merasa diri kita pintar, maka yang menciptakan tentu jauh lebih pintar. Kalau kita merasa bodoh, yang menciptakan tetap lebih pintar. Jadi, bisakah kita menghakimi kejadian yang terjadi di sekitar kita seolah-olah kita sedang melihat dari kacamata Tuhan? Coba ingat kembali cerita seorang cucu yang sedang menemani neneknya menenun.

Si cucu yang masih kecil itu mengamati hasil tenunan neneknya dari bawah. Dari bawah, yang terlihat hanyalah kumpulan benang yang saling silang tidak keruan. Sekilas terlihat seperti benang kusut. Si cucu heran melihat neneknya yang begitu tekun mengerjakan tenunan itu. Setelah ditunggu selama beberapa jam, hasil yang dilihat si cucu tetap buruk dan tidak ada sisi keindahan di dalamnya. Karena tidak sabar, si cucu bertanya, “Nek, sebetulnya apa sih yang Nenek kerjakan dari tadi?”

“Nenek sedang menenun sebuah gambar yang indah. Kamu pasti akan takjub melihatnya..” jawab si nenek sambil tersenyum.

“Mana indahnya, Nek? Dari tadi aku amati, yang Nenek kerjakan hanyalah sekumpulan benang kusut. Tidak ada indah-indahnya, Nek!” protes si cucu.

“Jika kamu mau menunggu sedikit lagi, Nenek akan menunjukkan sebuah gambar yang indah..”

Si nenek menepati janjinya. Beberapa saat kemudian, ia menurunkan tenunannya sehingga cucunya bisa melihat gambar tenunan itu dengan jelas. Ternyata benar, nenek telah menenun sebuah gambar yang indah. Sebuah pemandangan dari padang rumput yang mengagumkan. Si cucu hanya bisa terpana tanpa kata-kata menatapnya. Ia tidak percaya kalau benang kusut yang ia lihat ternyata adalah sebuah gambar yang sangat indah.

Begitulah yang terjadi antara kehidupan manusia dengan Tuhan. Tuhan hanya meminta manusia untuk menunggu dan mengimani. Tetapi, terkadang manusia begitu kritis sehingga mencoba menganalisis segala fenomena yang terjadi tanpa iman seperti yang diminta Tuhan. Kemiskinan dan semua masalah yang sedang melanda bangsa kita terjadi karena dua hal.

Pertama, semua itu karena kesalahan kita. Manusia Indonesia adalah manusia yang bodoh dan tidak tahu terima kasih. Bayangkan, kurang sempurna apa sumber daya yang diberikan Tuhan kepada kita? Wilayah yang begitu luas. Indonesia mengklaim dirinya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Profil geografisnya sangat lengkap dengan adanya hamparan pantai dan pegunungan, ditambah letaknya di tengah khatulistiwa dimana sinar matahari begitu melimpah. Sumber daya manusianya juga terdaftar dalam peringkat lima besar di dunia, tentu bisa menjadi sumber produksi yang besar bagi perekonomian negara. Namun, apa yang terjadi? Semua itu dipandang sebagai kekayaan yang pantas dihamburkan.

Anggap saja kita bangsa Israel yang kedua. Disayang dan dimanja, namun justru menyakiti hati Tuhan. Bangsa sendiri saling membunuh dan membenci. Uang yang bukan miliknya dikorupsi hingga saudara sebangsa banyak yang tidak bisa makan. Fasilitas umum milik bersama dirusak dan digunakan seakan-akan milik pribadi. Sedih melihat kenyataan itu. Kalau begitu, salah siapa kalau sekarang Indonesia miskin? Salah siapa kalau televisi kita menghadirkan program-program yang mengeksploitasi kemiskinan? Masih menganggap itu salah Tuhan?

Memang Tuhan itu siapa? Pribadi yang bisa kita perintah? Bisa kita suruh memperbaiki kehancuran yang kita ciptakan sendiri? Egois! Kedua, miskin dan kaya ada supaya setiap manusia bisa belajar menjadi makhluk yang lebih baik. Kalau semua orang kaya dan makmur, apakah akan ada lagi yang disebut sebagai kebaikan? Tentu tidak ada, karena setiap manusia bisa membantu dirinya sendiri. Tidak ada yang butuh orang lain. Tidak ada lagi saling melayani. Kalau semua orang miskin, jangan harap lagi ada orang yang membantu orang lain karena membantu dirinya sendiri saja tidak sanggup.

Aku tidak berbicara soal materi. Dalam beberapa hal, orang kaya seharusnya mengharapkan bantuan dari orang miskin. Dalam banyak hal, orang miskin lebih kaya dibandingkan orang kaya. Misalnya, kalau mau bertanya soal nilai sesuap nasi, jangan tanya pada anak-anak yang lahir di Pondok Indah. Coba pergi ke sekitar Tanah Abang dan tanyakan pada anak-anak yang berkeliaran di sana. Orang miskin punya perhargaan, pertahanan diri, dan cara pandang yang tinggi terhadap banyak hal. Orang-orang filsafat seharusnya berguru pada mereka. Intinya, orang miskin dipakai Tuhan untuk mengajari manusia lain mengenai arti kehidupan.

Kalau sekarang kita merasa sedih ketika melihat berita kemiskinan di televisi, bersyukurlah karena keberadaan mereka telah mengajari kita untuk mengenal kata empati. Jika lalu kita merasa harus melakukan sesuatu untuk mereka, bersyukurlah karena kemiskinan mereka telah memberikan ruang dan waktu bagi kita untuk mengaplikasikan apa yang telah Tuhan ajarkan pada kita. Jadi, jangan mengutuki Tuhan karena telah mengijinkan mereka mengalami kemiskinan. Kalau kita mau terbebas dari berita-berita kemiskinan di kanan dan kiri kita, berhenti menyalahkan Tuhan dan justru seharusnya kita berdoa supaya diberi kesempatan untuk bisa membantu mereka.

Kehidupan ini adalah sebuah rantai yang panjang dan saling terhubung dengan luar biasa di tangan Tuhan. Setiap hal, bahkan sekecil daun yang gugur dari rantingnya, terjadi karena suatu alasan. Hal itu terjadi supaya hal lain dimungkinkan untuk terjadi, begitu selanjutnya. Kemiskinan terjadi bukan karena Tuhan sedang iseng menguji atau menyiksa sekelompok orang. Kemiskinan struktural memerlukan hikmat yang besar dari Tuhan supaya kita bisa memahaminya dan kemudian menemukan titik terang dari masalah itu. Hanyalah bagi Tuhan segala hormat dan kemuliaan. Soli Deo Gloria!

3 comments:

Anonymous said...

makan gk perlu sehari tiga kali, kebanyakan orang malah sehari dua kali aja, ato bisa sehari empat kali...he3x
segala sesuatu akibat pasti ada sebabnya, kita gak patut menyalahkan tuhan...

Anonymous said...

gw setuju soal kita ga patut menyalahkan Tuhan..^^

Anonymous said...

applause buat penulis artikel ini..... ^^ sekilas biasa, tp coba dibaca bener2... menarik...
sama seperti yg biceritakan, terlihat kusut, namun kenyataannya indah. ya gw seneng banget dgn ungkapan itu. apa yg ada di sekitar kita jgn diliat sebelah mata aja, tp liat dari berbagai sisi. Namun sayangnya, apa yg ada di sisi Tuhan ga pernah bisa kita tebak. Butuh keintiman untuk memahami apa sih rencana Tuhan, apa sih keindahan di balik kesusahan itu... Bila itu ga dilakukan ya itulah dampaknya, Tuhan dihakimi dan disalahkan, memang enak saat menyalahkan Tuhan, seakan puas bisa membuang emosi. Namun itu adl kesalahan fatal, menghakimi Tuhan=menjauhkan rencana Tuhan yg indah untuk terjadi dalah kehidupan kita ^^ So... mana hidup yg mau dipilih, susah bersama Tuhan atau senang bersama dunia?? kalo gw sih maunya SENANG BERSAMA TUHAN. hahah... ^^